14 November 2008

Anugerah Pena Kencana: "Gak Usah Serius Amat!"

Anugerah Pena Kencana:
Gak Usah Serius Amat!"


Esai Isbedy Stiawan ZS


SETELAH buku anugerah Pena Kencana (cerpen dan puisi) dilepas di pasaran, kedua buku itu pun langsung menuai kritik. Setumpuk kritik tersaji di milis-milis, belum lagi pesan pendek yang beredar melalui handphone ke handphone. Intinya, kalau tidak mempertanyakan maka menghujat cara penjaringan dan penilaian—di situ termasuk kepada dewan juri dan panitia yang karyanya masuk dalam buku.

Pemberian anugerah karya sastra di Tanah Air bukan kali ini saja yang menuai kritik, tapi sudah berulang-ulang seiring bergulirnya anugerah—dari hadiah yang kecil sampai yang besar dan bergengsi. Contoh yang sangat dekat ialah KLA (Katulistiwa Literary Award), SEA Write Award, dan lainnya.

Tradisi kritik memang sudah mendarahdaging dalam bangsa ini. Tetapi, “tradisi” tersebut muncul tersebab “budaya” kita juga yang kerap abai pada aturan-aturan yang telah disepakati. Atau longgar dan menyepelekan persyaratan yang sudah diteken; aji mumpung dan menganggap masyarakat dapat “dipaksa” untuk menyetujui setiap keputusan yang diambil.

Sampai kini KLA tak sepi oleh kritik. Misalnya, soal penjurian tingkat awal untuk “memburu” buku-buku sastra di toko buku (konon, prioritas pada Toko Buku Gramedia) yang ada di Jakarta. Mereka “dimodali” untuk membeli sejumlah buku, kemudian mengajukan judul buku yang dipilihnya untuk mengikuti penyaringan berikut.

Sampai di sini, kelihatannya tak ada masalah. Pertanyaan pun lalu muncul: siapa (mereka) yang dipercaya peneyelenggara untuk memburu buku sastra? Berapa mereka “dimodali” dan dengan nominal itu berapa buku yang harus dibaca, lalu apakah panitia mengaudit antara modal dan buku yang dibeli? Sikap “saling percaya” rasanya tidak tepat dilakukan di sini.

SEA Write Award yang ditaja Pusat Bahasa juga tak terelakkan menuai kritik. Bahkan acap sulit diterima akal, kenapa si Fulan mendapat SEA Write Award tahun ini dan mengapa si Bolan yang nyata-nyata buku-buku karyanya—secara kuantitas dan kualitas—dapat pertanggungjawaban, namun tidak dianugerahi? Sebab itu, SEA Write Award Pusat Bahasa itu dianggap “anugerah arisan” karena memang yang sudah dapat tidak akan terulang. Seorang teman tatkala memeroleh anugerah itu, melalui pesan pendek dengan gurau berujar: “Kali ini giliran aku yang mendapat arisan.”

Itulah sedikit gambaran fenomena award-award di ranah sastra Tanah Air. Sebenarnya masih banyak, termasuk pula anugerah Bakri, Akademi Jakarta, dan seterusnya. Pemberian anugerah sama tipisnya dengan penetapan sastrawan yang (akan) diundang ke luar negeri: sama-sama berisiko dikritik dan sama-sama bisa bermain.

Ya! Bicara soal “bermain” memang kehidupan ini adalah permainan. Karena permainan, lakoni saja dengan penuh keriangan. Dengan kata lain, gak usah serius amat, bermain-main saja, santai. Meminjam moto konco-konco di KoBer (Komunitas Bekat Yakin): rock n roll hahaha.

Lalu, apakah karya sastra bukan lahir dari keseriusan? Soal ini, siapa pun setuju 100 persen. Antara karya sastra dengan penilaian award acap tak dapat dicari titik temu dan titik tuju. Lha wong sekelas Nobel saja tak bebas dari kritik.

Aturan-aturan dalam penentuan suatu pilihan dibuat sangat ideal. Tetapi, seideal apa pun tetap punya celah untuk “dimainkan” lalu jadi “ketetapan baru”. Undnag-undang, AD-ART dan apa pun namanya selagi manusia yang buat, ia punya ruang untuk dilanggar.

Demikian pula dengan Anugerah Pena Kencana. Setahu saya dari milis-milis, puisi-puisi Joko Pinurbo yang juga sebagai salah satu juri melanggar deadline antara pemuatan di koran dan yang disepakati dalam penjurian. Maafkan kalau apa yang saya kemukakan ini salah.*)

Tulisan ini tak akan jauh memasuki masalah puisi-puisi Jokpin. Saya—dan barangkali banyak pembaca sastra—hanya mempertanyakan kepatutan apa sehingga para juri juga berhak menilai karyanya? Pertanyaan ini kita sempitkan saja: pantaskah juri rangkap sebagai peserta, meskipun berdalih si juri tak ikut menilai ketika karyanya diajukan: artinya juri-juri lain yang menilai, dan seterusnya.

Kelihatannya tak ada masalah. Namun, sesungguhnya bermasalah dan di situlah masalahnya. Analoginya demikian: puisi Fulan karena ia bukan juri maka karyanya dinilai oleh seluruh juri (5 atau lebih?), sementara karena Bolan adalah juri otomatis karyanya dinilai minus dirinya. Kenetralan dirinya—kalau mau dikatakan netral—sekaligus berpihak. Betapa tidak, ketidakikutsertaan dalam menentukan karyanya sendiri, sesungguhnya ia sudah memilih karyanya. Tinggal teman-teman juri lain yang memberi bobot atas karyanya. Adilkah itu dan di mana keadilannya?

Lalu, kritik yang meruak juga adalah ihwal karya-karya dari panitia yang lolos dalam buku tersebut. Ternyata panitia juga tak hendak di pisahkan dirinya sebagai kreator. Karena itu, “minta keadilan” agar karyanya ikut dalam bursa pemilihan. Soal ini juga kelihatannya tidak bermasalah. Para panitia akan berdalih: sebagai sastrawan karya kami juga punya hak untuk dinilai, dan jangan dikaitkan antara kreator dan penyelenggara. Jika dalih ini terus dipelihara, bisa sangat berbahaya. Bagaimana pun kedekatan emosional antara panitia, juri, dan sebagai kreator tidak bisa dianggap sepele.

Kritik lain, saya pernah dikirimi pesan pendek dari salah satu sastrawan Riau. Ia meragukan keakuratan saat perekrutan karya-karya yang terpublikasi setahun berjalan itu dari bebagai koran di sejumlah kota di Tanah Air. Pasti ada yang luput. Ia ambil gampang saja. Satu koran akan menurunkan beberapa puisi dan satu cerpen setiap pekan. Dikalikan setahun, jadilah 48 kali (tak termasuk hari libur yang mungkin bertetapan pada Minggu). Lalu dikalikan minimal 5 puisi atau 7 puisi. Jadi, untuk satu koran saja setahun bisa menginventarisir 240 lebih puisi, nah berapa koran yang ditelisik panitia Pena Kencana? Dan, apakah setiap pekan dari media-media yang ditetapkan panitia tersebut dijamin tidak akan luput sekali terbit saja?

Permainan
Seorang penyair berkelakar, Anugerah Pena Kencana tak lebih hanyalah permainan. Ia sepakat dengan contoh-contoh seperti yang sudah dikemukakan di atas. Itu sebabnya, teman penyair ini—kebetulan karyanya masuk dalam 100 Puisi Pilihan, mengaku tak tetarik mengikuti babak pilihan pembaca melalui SMS (short massage system).

Dari awal saja sudah permainan, karena itu tak perlu serius-serius amat—teman penyair itu menegaskan. Sebab, kalau kita mau ikut dalam permainan itu, kudu punya modal. “Dalam permainan—apa pun, identik berjudi,” ujar dia lagi. Dan, cara pilihan karya dari pembaca melalui SMS sama artinya untung-untungan dan itu masuk kategori perjudian.

Sampai di sini, kita berkalkulasi dengan modal. Harga buku Rp50 ribu pereksemplar. Sekiranya kita memiliki modal Rp30 juta, kita akan mengantongi 600 suara. Kalau menang, untung 20 juta. Lumayan kan dalam suatu permainan (judi) memeroleh keuntungan sebesar itu? Tentu sjaa, dengan suara 600 itu memang masih gambling, perlu siasat lainnya: mengontak saudara, teman, kolega, dan seterusnya.

Mari berandai-andai. Penyair Fulan kebetulan seorang karyawan—misalnya di instani pemerintah atau swasta—atau lebih baik lagi karyawan yang memunyai jenjang komando sangat kuat, semisal di Kepolisian, Kehakiman, atau ABRI. Untuk karyawan (pemerintah atau swasta), penyair tersebut bisa mengerahkan konco-konconya untuk membeli 1 atau 2 eksemplar buku perorang lalu mengirimkan SMS dengan memilih puisi Fulan sebagai puisi terbaik.

Apabila dalam satu instansi, ia bisa mendapatkan 300 orang saja sudah lumayan suara terkumpulkan, yakni 600 suara. Belum lagi, teman dari keluarganya yang kebetulan juga karyawan di instansi (pemerintah dan swasta). Dan, akan lebih menguntungkan jika penyair Fulan bekerja di suatu instansi yang kuat garis komandonya. Ia cukup “memerintahkan” yuniornya dan “merayu” rekan seangakatan serta seniornya untuk membeli buku dan mengirim SMS ke panitia!

Maka penetapan Anugerah Pena Kencana memang bukan diukur sebagai prestasi. Tetapi, sekali lagi, cumalah permainan—seperti juga permainan dalam Akademi Fantasi Indonesia (AFI) di Indosiar dulu. Ternyata ukuran pemenang AFI (hanyalah) adalah seseorang dari keluarga tak mampu, padahal peserta lain yang layak secara kualitas harus tereliminasi.

Kecuali kelalaian panitia, kalau saya tidak salah, antara perolehan suara untuk Inggit Putria Marga dengan Dahta Gautama (keduanya—juga Jimmy Maruli Alfian—dari Lampung), mestinya Dahta berada di atas Inggit Putria Marga. Selebihnya, untuk apa kita sikapi serius final Anugerah Pena Kencana? Ya, anggaplah ini sebuah permainan—yang mengasyikkan tentunya—maka gak usah serius amat!

Lalu lupakan itu, tapi tetap berkarya dan mengharap-harap pada jilid 2 nanti karya kita masuk dalam buku. Syukur kalau kemudian karya kita dipilih pembaca sebagai karya terbaik dan memeroleh Anugerah Pena Kencana dengan mengantongi Rp50 juta. Wah, bisa bikin rumah atau naik kuda nipon…


Lampung, 2 Oktober 2008; 00.42

*) saya di SMS Gus tf Sakai setelah tulisan ini dimuat Jawa Pos (5/10/2008), kesalahan terjadi pada editor buku. Puisi-puisi Jokpin tak menyalahi persyaratan.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Extremely funny video with a social message. Ghuggi must get a national award for his efforts.

Ghuggi de barati - Gurpreet Ghuggi

Anonim mengatakan...

Burberry Vent sale online.The Pre-eminent Burberry outlet www.burberryoutlet--store.comCollect to attain by inexpensively Burberry escape products online. Omit [url=http://www.burberryoutlet--store.com/]Burberry outlet[/url] leaking cook up feed queer upto 70%, and spur-of-the-moment shipping!