16 November 2007

SAJAK-SAJAK ISBEDY STIAWAN ZS



Kau Meretas dalam Pekat

sudahkah kauturun gunung
sebelum kabut lenyap oleh
matahari pagi ini?

sebab kutahu semalam kau kembali
susuri leher pebukitan itu menuju
vila kecil di puncaknya, dan
kubiarkan punggungmu meretas
di dalam pekat;
hitam waktu

selalu kauburu kesunyian
seperti tak ingin disergap riuh
lalu rumah sunyi itu didirikan
di puncak paling sepi! menyulang
lengang

selalu kau memburu sepi
seperti tak ingin dilumat gaduh
lalu leher gunung itu pula
kaususuri sambil menugal silam

sudahkah bayangan lelaki itu
tertinggal di dalam senyap?

sebab semalam kulihat kau kembali
bangunkan kenangan-kenangan
yang sempat singgah tapi tak pernah
meninggalkan anganmu. padahal
waktu selalu berubah
dan meretas karena gerah,

tak berujud
tersebab dibalut kabut:
seperti vila itu
akan kembali sunyi
2005


Seperti Kematian

aku dapati kematian
tiap gali rahasia perempuan

serupa mendung
di wajahmu
aku hanya rasakan
aroma peluhmu

lalu mata,
bibir yang anggur
sebagai kanal dingin:
sesunyi pelataran ini
buatku mendesah

kugotong berwaktu-waktu
mencapai pendakian
dan membongkarnya
di kanal ini

tapi, sudah berapa jauh
aku ngembara,
berapa lubang kugali
mencari temu rahasia?

engkau, perempuan, rahasia
yang sulit diselami
seperti kematian
yang kurasakan
setiap petang…
2004, Lampung


Bagai Sepasang Kekasih

selepas gemuruh di pagi benderang itu
semua kenangan tentang lelaki suci
dan perempuan binal yang kaukisahkan
kembali menggayut di benakku:

bagai sepasang kekasih berenang
melawan gelombang; tanpa perahu,
tiada dermaga sebab telah runtuh
beberapa detik lalu…

mungkin kau adalah sisa
dari silsilah manusia
yang menulis tahilalat
di sejarah yang pekat

sebelum kota menjadi punah
menenggelamkan segala seranah
aku seperti sudah membaca sejarah
tentang orang-orang jadi ikan
dihanyutkan oleh bandang

selepas gaduh di pagi benderang itu
aku benar-benar kehilangan sejarah
tentang kota yang memendam seranah
kecuali tentang orang-orang
yang telah menjadi ikan
bergelimpang dalam bandang…
2004/2005

Sumber: KOMPAS, Minggu, 20 Februari 2005



Tidak ada komentar: