01 Februari 2010

Puisi Isbedy Stiawan ZS

Bintang Kecil di Solaria

muntahan cahaya kuning di langit lengkung
senja terasa lembut, dan kautinggalkan kafe itu
sebelum seseorang datang ingin meberi tisu
di mejamu

kini meja kafe yang telah kautinggalkan
masih terasa bekas jemarimu, juga setitik airmata
yang telah menjadi bintang

"bintang kecil dilangit yang tinggi, amat banyak..."seorang anak kecil
menyanyikan lagu itu dituntun ibunya memasuki kafe
duduk di bekas kursimu, menikmati juice melon,
cappucino, dan bintang
di bekas mejamu itu

ada yang datang ke mari tanpa membawa tawa,
namun airmata yang telah disimpannya
berhari-hari ditumpahkannya
--anak kecil itu berkhayal menjadi dewasa--

duduk seperti kau termangu, mencangkung bagai kau yang tengah melamun
menunggu kekasih tiba --tapi hingga lebih waktu, yang dinanti tak juga kunjung
hingga kau pun pergi membawa kembali sepi

sampai adzan berlalu
hatimu bertalu-talu!

--berapa waktu telah kaubuang, wahai?--


solaria, akhir oktober 2009




*


Seseorang di Jalan

sesorang bertanya padaku di siang yang panas ini, karena peluhku banjir akhirnya
aku hanya menatapnya lama. dia kembali bertanya, kali ini karena dengan kualitas
suara yang berat, kembali aku hanya memandangnya. kini tatapanku amat dingin
sedang dia membalas dengan tujahan matanya yang api

"semalam aku habisi berbotol-botol alkohol, hingga siang ini kurasakan bumi
bergerak-gerak. langkahku goyang. bumi limbung. tapi aku tahu, kalau gempa
bangunan pasti runtuh. orang-orang mati tertimbun. ini tidak..." katanya seperti
memberi jawaban yang tidak kutanyakan.

aku mulai jemu. ingin kukalungkan pisau di lehernya, rasanya hendak kugantungkan
batu di mulutnya yang maish bau alkohol agar kalimat-kalimatnya tak menyebarkan
alkohol pula. agar aku tak ikut mabuk. di antara orang yang mabuk, aku mesti kuat
menerima bumi yang terasa guncangannya.

dalam semilir angin panas, tetap kutebus waktu-waktu yang seakan penuh silet:
seseorang yang kujumpai di simpang jalan itu tak lagi bertanya. namun ia menunjukkan kemaluannya, ia jadikan tongkat. "aku dikutuk jadi musa dan diberi tongkat. jika raja firaun kembali hidup dan mengganggu firman-formanNya akan kupukul ke tanah
hingga berganti lautan. aku pun, seperti musa, menyeberangi laut sampai ke tepian. setelah itu kubalikkan tonkatku, dan firaun
terhimpit di antara dua tanah ini..." katanya

aku berang. kupaksa ia menutup kemaluannya, karena benda itu
adalah aib bagi lelaki, adalah kehormatan yang mesti dijaga. "kau bilang kehormatan? benda ini bisa kaubeli di warung-arung
kecil terutama di dekat rumah-rumah bordil. iklannya dipajang di setiap gang:
'pakai alat pengaman kalau tak ingin terkena kuman!'

maka aku terdiam. tak bisa kubayangkan sekiranya dia kuangkat lalu kulempar ke bak sampah di seberang jalan, tepat di sebelah siring. dan seekor anjing kuihat
masih mengais makanan sana. kuharap anjing itu benar-benar lapar,
dan menyantap dia...

dekael, 301009;14.05




*


Cincin dari Hujan

telah kusimpan rinai terakhir hujan senja tadi
untuk kenang-kenangan bagimu yang kini terlelap
agar dalam mimpimu tak ada lagi hujan
yang membuat kota-kota tergenang
atau langkah yang urung menjelajah ruang-ruang
di ujung jemariku rinai hujan terakhir
semakin membeku, seperti pecahan
permata. untuk
cincin, betapa manis jemarimu
lalu hujan yang kemudian tiba lagi
kutadah dengan telapak tanganku
dan kini menjelma tempayan,
bagimu berenang-renang






*







Insomnia*)

"jangan," bisikmu malam ini ketika ia ingin menyeretmu ke paling malam
sebab malam sudah membawamu ke ujung kelam, melintasi waktu paling puncak
menggetarkan setiap pembaringan oleh dengkur atau hela dan mimpi
"aku tak bermimpi. itu hanya mainan tidur," ujarmu lagi saat ia membujukmu untuk membawa ke hutan malam
karena kau belum lelap dan matamu masih membaca waktu, bagaimana didatangi mimpi?
"itu hanya bunga tidur," tegasmu. ia tersenyum, ingin merengkuhmu lalu menyeretmu ke rimba kelam
dan meletakkanmu di pintu fajar, menanti datang matahari
kemudian kau benar-benar berangkat
dan ia keluar sebagai penyelamat
"aku belum ingin pergi, apalagi mau mati," suaramu parau. ia pun mendesah
malam ini adalah milikmu, sepenuhjiwa, karena itu biarkan malam berlalu
tanpa ia menarikmu ke lain waktu: malam paling kelam

171209; 01.04

*) judul yang sama pernah digunakan Gus tf ("Akar Berpilin" Penerbit Kompas, 2009)




*




Amnesia

engkaukah yang bangunkan aku setelah kau lelapkan?
di tempat ini aku jadi baru, menjelma kupukupu atau rama pada malam hari
jelajahi waktu demi waktu, mengibas pohon, menerawangi tiang listrik
atau membenturkan diriku pada cahaya lampu jalan
inikah iba yang paling luka? menelikung wajah sendiri, meniti tubuh: ke tanah, kembali ke asal, aku akan tiba?
tulangku akan tumbuh jadi pohon, namaku berbuah. engkau akan memetiknya
--aku tak lagi mengenalmu, tak tahu namanama jalan, juga tak bisa lagi baca waktu--

171209; 08.17




*





Sebentar Singgah

di sini aku pulang, setelah berkali-kali aku pergi dari sini
lalu sejumlah nama kota kubenamkan di benakku
juga nama-nama yang terkasih dan kubenci
bukan sebagai kenangan apalagi buah dari percumbuan
tapi cuma sebentar singgah demi menanam desah
setelah itu kulupa --hingga aku berkali-kali untuk kembali mengingat--
apakah kau perempuan ataukah lelaki? singgah di hati atau sekadar menatap
dari sini aku pergi dan kemari lagi aku kembali
membangun rumah terakhir singgahku
yang penuh bunga-bunga
--wajahmu makin jauh, suaramu terasa hanya keluh--
aduhai, apakah kau kekasih yang kupilih?

171209: 16.36





*



Catatan Beberapa Bagian

lalu suaramu yang tinggal di ruang ini
membaca-baca peristiwa yang baru terjadi
*
jejak tubuhmu mengekal
lalu kutulis namamu agar tak hilang
*
menyerpihi sisa aroma tubuhmu
kenapa ingatan itu memanggil-manggil?
*
hanya boneka pemberianmu
yang kucintai karena kau tak pernah kembali
*
kumau kau datang tak saat kesepian
dan aku menyambut dengan riang
*
jika kau terus-terusan sembunyi
namamu akan terhapus juga
*
terkenang saat kau memasak untukku pagi itu
dan kau terluka, lalu kuminum darahmu
hingga hapus dahagaku, adam!
*
cintamu kupilin
hingga jadi lilin

171209: 09.36

Tidak ada komentar: